The Personal Info & Portfolio
Tulisan ini terinspirasi dari kisah nyata yang saya alami beberapa hari yang lalu. Jadi begini ceritanya … pagi itu kira-kira jam 7 lewat saya pergi nganterin ibu ke pasar Seutui di Jalan Teuku Umar. Biasanya untuk menuju kesana saya melewati jalan pintas yang biasanya ngga’ dijaga plokis polisi PJR dan pulang menggunakan jalan yang sama. Tapi ntah kenapa pada saat pulang saya malah melewati jalan protokol dengan pede nya. Ternyata setibanya di persimpangan tepatnya di depan terminal bus Seutui telah siaga satuan polisi PJR yang sedang mengatur lalu lintas. Saya bener-bener lupa kalau mereka biasanya stay tune di jalan protokol itu mulai dari jam 7 pagi. Seorang polisi PJR yang sedang berjaga tepat di persimpangan terminal Seutui itu langsung menyetop saya. Spontan … saya pasang wajah tak berdosa untuk membuatnya iba namun gagal karena kurang ekspresif. Dengan isyarat tangan ia menyuruh saya meminggirkan motor yang saya tunggangi dan langsung mencabut kunci motor saya. Seketika tersadar kalau saat itu saya pergi tanpa memakai helm dan ngga’ bawa dompet karena SIM dan STNK ada di dalamnya.
Terjadilah dialog singkat antara saya dengan nya. Tapi maaf saya ngga’ bisa menceritakan nya secara detail … takut ntar dikira cerita fiktif belaka .. hehe. Karena kesalahan saya ngga’ pake helm dan ngga’ bawa SIM plus STNK itu motor saya terpaksa harus ditilang. Tak lama kemudian pak polisi itu mengeluarkan slip berwarna merah yang saya duga itu pasti surat tilang. Ternyata benar kalau itu adalah slip tilang berwarna merah .. dan ia segera melengkapi form isian tersebut. Setelah selesai … beliau mengatakan kalau STNK dan motor saya untuk sementara ini ditilang. Saya minta agar motor itu dapat saya pinjam sebentar untuk pulang mengambil SIM dan STNK yang tertinggal di rumah untuk diperlihatkan kepadanya (hehe .. ini pura-pura bodoh atau bodoh pura-pura ya?! Kayak itu polisi sodara kita aja). Alhasil, beliau ngga’ bisa memenuhinya.
Akhirnya pulang ke rumah dengan becak yang kebetulan mangkal di deket situ. Setiba di rumah saya segera mengambil dompet yang tertinggal dan kembali lagi ke TKP. Alhamdulillah saya bisa membawa pulang motor saya namun STNK masih ditahan. Pada hari itu juga saya segera mengurus STNK yang masih ditahan itu. Singkat cerita, saya harus mengeluarkan uang sebesar Rp. 80.000,- untuk menebus STNK tersebut tanpa melakukan tawar-menawar sebelumnya. Dari pada urusannya jadi panjang hingga harus ikut sidang?
Sekembalinya saya dikantor, seorang teman ngasih info tentang slip tilang. Darinya lah saya jadi tahu kalau slip tilang itu ada 2 jenis, yaitu slip merah dan biru. Sumber lain tentang ini juga saya ketahui melalui email yang diforward-nya ke saya. Poin penting dari isi email tersebut adalah :
Denda yang tercantum dalam KUHP Pengguna Jalan Raya tidak melebihi Rp. 50.000,- dan dananya RESMI MASUK KE KAS NEGARA. Table jenis pelanggaran & uang titip dapat dilihat disini.
Dari info tersebut baru tahu kalau kita telah nyata-nyata melanggar peraturan lalu lintas, sebaiknya akui kesalahan itu (biar ngga’ dapat slip merah) dan request form/slip biru sama pak polisinya. Jadi kita ngga’ perlu ngeluarin uang hingga lebih dari Rp. 50.000,- seperti saya ini. Nasi udah jadi bubur, bulan puasa sebaiknya makan sahur *halah*, ini jadi pengalaman berharga buat saya. Semoga informasi ini dapat menjadi bekal dan tameng saat kita ditilang
Betul … betul?!
Assalamu'alaikum.
My name is Andriansyah. I'm currently living in Banda Aceh, NAD. Interest with computer graphics skill like web design, graphic design and multimedia. I used Photoshop, CorelDRAW, Macromedia Flash & Dreamweaver for designing. Until now I still learn and learn.
Thank you so much for visiting my blog. I hope you enjoy this site ^^V.
Arja
December 3rd, 2008 at 3:32 pm
Kenapa sih bukan post-kan…. Bulan sabit dan bintang tersenyum?!